Dia takut, sayang…
Jalan masih panjang, sayang…
lalu mengapa muram wajahmu?
mengapa ketegangan itu ada pada lekuk bibirmu?
bukankah tanganmu yang menggenggam hidupmu?
bukankah kakimu sendiri yang menjajaki tapakmu?
lalu mengapa muram wajahmu?
mengapa ketegangan itu ada pada lekuk bibirmu?
bukankah tanganmu yang menggenggam hidupmu?
bukankah kakimu sendiri yang menjajaki tapakmu?
Dia takut, sayang…
Dia takut setelah lama tak dimilikinya rasa itu
Dia takut setelah bertahun2 hidup adalah miliknya sendiri
Sekarang dia takut,
fikirnya kini mengetahui sesuatu yang selama ini ada di dalam angannya hanya sayang tak pernah terjamah keluar
Sekarang dia takut,
hatinya gundah menyadari bukan tangannya yang menggenggam dirinya,
bukan inginnya yang membuat kakinya menjajak di tapak itu
fikirnya kini mengetahui sesuatu yang selama ini ada di dalam angannya hanya sayang tak pernah terjamah keluar
Sekarang dia takut,
hatinya gundah menyadari bukan tangannya yang menggenggam dirinya,
bukan inginnya yang membuat kakinya menjajak di tapak itu
Dia takut, sayang… dia sungguh takut,
biar dia larut di dalamnya
agar mati raganya
dan hilang angannya tentang dia
Jalan sungguh masih panjang, sayang…
takut bukanlah senjata yang paling ampuh untukmu sekarang







